KABARIJEN.com – Penurunan harga udang kembali menjadi perhatian serius. Petambak di Banyuwangi kini harus menanggung dampak kebijakan perdagangan internasional.
Kepala Dinas Perikanan Banyuwangi, Suryono Bintang Samudra, menyebut turunnya harga dipicu aturan ekspor Amerika Serikat yang semakin memberatkan.
“Dengan ukuran sama, harga udang turun sekitar Rp10 ribu per kilogram. Dampak langsung ini sangat dirasakan oleh petambak lokal,” katanya.
Menurut Suryono, Amerika Serikat memberlakukan pajak impor sebesar 19 persen untuk seluruh barang, termasuk udang dari Indonesia.
Tak berhenti di situ, beban bertambah dengan biaya anti dumping sebesar 6 persen. Total hampir 35 persen harga terkikis.
“Daya saing kita melemah. Produk Indonesia tertinggal jauh dibanding India, Ekuador, maupun Vietnam,” ungkapnya menegaskan.
Kondisi itu menggerus pasar ekspor, terutama ke Amerika yang selama ini menyerap 70 persen udang Indonesia.
Sementara itu, Jepang dan Eropa hanya menampung sekitar 30 persen. Pasar domestik sejauh ini baru 10 persen saja.
Suryono menilai ketergantungan pada Amerika sangat riskan. Alternatifnya perlu membuka pasar baru di Timur Tengah dan wilayah lainnya.
Namun, ia mengakui ekspansi tidak mudah. Karena itu, penguatan konsumsi lokal dinilai lebih realistis untuk menjaga harga stabil.
“Kita kampanyekan gemar makan ikan, termasuk udang. Kalau 50 persen dikonsumsi nasional, sisanya bisa untuk ekspor,” tutupnya.
