KABARIJEN.com – Di ujung selatan Kabupaten Banyuwangi, tepatnya di Dusun Sumber Kepuh, Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo, terdapat sebuah sentra ternak yang setiap hari mampu memproduksi ribuan ekor bebek potong. Warga setempat menyebutnya “Kampung Bebek” karena hampir seluruh penduduknya menggantungkan hidup dari usaha ini.
Proses usaha di kampung ini tidak berhenti di satu tahap saja. Mulai dari penetasan, pembesaran, pemotongan, hingga penjualan, semua dilakukan di desa tersebut. Bahkan, telur yang gagal menetas dimanfaatkan menjadi pakan ikan, sehingga tak ada limbah terbuang sia-sia.
Kelompok ternak Makmur Mandiri, yang dibentuk oleh Nur Kholis, menjadi penggerak utama roda usaha ini. Menurut Kholis, sistem yang mereka jalankan memberdayakan warga secara langsung. “Kami titipkan bebek kepada warga untuk dipelihara. Saat masa panen tiba, kami yang membeli kembali hasilnya,” ujarnya.
Ada sekitar 40 keluarga yang menjadi mitra, masing-masing memelihara 1.000 ekor bebek. Kholis sendiri memelihara 10.000 ekor di peternakannya. Total populasi kelompok ini mencapai 50.000 ekor, dengan masa panen antara 25 hingga 38 hari. Setiap keluarga rata-rata memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp4 juta untuk setiap 1.000 ekor yang dipelihara.
Bebek yang dibudidayakan terdiri dari dua jenis, hibrida dan peking, dengan pasar utama di Banyuwangi dan Bali. Pasokan ini tidak hanya untuk rumah tangga, tetapi juga restoran dan warung makan.
Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dispertan Banyuwangi, drh. Nanang Sugiharto, mengatakan bahwa Kampung Bebek termasuk salah satu sentra ternak yang berada di bawah pengawasan dan pembinaan dinas.
“Pendampingan kami mencakup pengecekan kesehatan ternak, pembinaan manajemen pemeliharaan, serta pemenuhan standar higienitas pada proses pemotongan. Tujuannya agar bebek potong dari sini aman dikonsumsi dan memiliki daya saing tinggi,” jelasnya.
