Trending News

Berita Terbaru

DPRD Banyuwangi Dalami Pola Skrining Aktif TBC di Kabupaten Buleleng
Daerah

DPRD Banyuwangi Dalami Pola Skrining Aktif TBC di Kabupaten Buleleng 

KABARIJEN.com – DPRD Banyuwangi mempelajari strategi Pemerintah Kabupaten Buleleng dalam menangani tuberkulosis (TBC), terutama terkait penemuan kasus, pengobatan hingga pencegahan penularan.

Studi tiru tersebut dilakukan jajaran pimpinan DPRD Banyuwangi saat mengunjungi Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, Bali, Kamis (17/9/2026). Rombongan dipimpin Ketua DPRD Banyuwangi I Made Cahyana Negara bersama Wakil Ketua DPRD Ruliyono.

Ketua DPRD Banyuwangi I Made Cahyana Negara mengatakan, penanganan TBC membutuhkan strategi yang tidak hanya berfokus pada layanan kesehatan, tetapi juga melibatkan masyarakat hingga tingkat desa.

Menurut Made, pola penanggulangan yang diterapkan Buleleng menjadi bahan pembelajaran bagi Banyuwangi, terutama dalam memperkuat deteksi dini dan memastikan pasien menjalani pengobatan secara tuntas.

“Kami melihat ada sejumlah pendekatan yang bisa menjadi bahan pembelajaran bagi Banyuwangi, terutama bagaimana menemukan kasus lebih awal dan memastikan pasien mendapatkan pendampingan,” kata Made.

Dalam kunjungan tersebut, Dinkes Buleleng memaparkan sejumlah strategi yang telah diterapkan untuk mempercepat penanggulangan TBC. Salah satunya melalui penguatan regulasi dan kelembagaan di tingkat daerah.

Buleleng telah memiliki Peraturan Bupati Nomor 38 Tahun 2025 tentang Rencana Aksi Daerah Penanggulangan Tuberkulosis 2025-2030. Selain itu, terdapat KOPI TBC, Tim Public Private Mix (PPM), serta Tim Percepatan Penanggulangan TBC (TP2TBC).

Made menilai, keberadaan regulasi dan tim lintas sektor penting karena persoalan TBC tidak bisa diselesaikan hanya oleh fasilitas kesehatan. Penanganannya membutuhkan keterlibatan berbagai unsur.

“Penanganan TBC harus dikerjakan bersama. Pemerintah, tenaga kesehatan, desa, komunitas, hingga masyarakat perlu memiliki peran agar penemuan dan pengobatan kasus berjalan berkesinambungan,” ujarnya.

Salah satu inovasi yang dipelajari DPRD Banyuwangi adalah POBIA MANTAN atau Penjaringan, Obati, Bersama Penyintas, Inisiasi HIV, Anak Kontak.

Program tersebut melibatkan penyintas TBC sebagai mitra dalam pendampingan pengobatan dan memberikan edukasi kepada masyarakat. Pendekatan ini dinilai dapat membantu membangun kesadaran sekaligus mengurangi stigma terhadap pasien.

Selain itu, Dinkes Buleleng menerapkan skrining aktif pada kelompok berisiko. Pemeriksaan dilakukan di sejumlah lokasi, mulai dari lapas, panti asuhan, pelabuhan, posyandu hingga skrining yang terintegrasi dengan penyakit tidak menular.

Menurut Made, pola skrining aktif tersebut dapat menjadi salah satu referensi dalam memperluas jangkauan penemuan kasus TBC di Banyuwangi, khususnya pada kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi.

“Semakin cepat kasus ditemukan, semakin besar peluang pengobatan dilakukan lebih awal dan penularannya dapat ditekan. Ini yang menjadi salah satu hal penting untuk kami pelajari,” kata Made.

Dinkes Buleleng juga menjelaskan pembentukan Desa dan Kelurahan Siaga TBC sebagai upaya menempatkan pencegahan dan pengendalian penyakit hingga tingkat masyarakat.

Made mengatakan, pendekatan berbasis desa relevan untuk diperkuat karena pemerintah desa memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat dan dapat membantu menemukan warga yang membutuhkan akses layanan kesehatan.

“Penguatan dari tingkat desa penting karena penanganan TBC tidak berhenti di puskesmas. Pendampingan dan edukasi di lingkungan masyarakat juga menentukan keberhasilan program,” ujarnya.

Hasil studi tiru tersebut selanjutnya akan menjadi bahan pembahasan DPRD Banyuwangi bersama pemerintah daerah untuk melihat strategi yang dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat Banyuwangi.

Made menegaskan, setiap praktik yang dipelajari dari daerah lain tidak serta-merta diterapkan seluruhnya, tetapi perlu disesuaikan dengan karakteristik wilayah dan sistem pelayanan kesehatan di Banyuwangi.

“Kami akan melihat mana yang bisa diadaptasi dan diperkuat di Banyuwangi. Tujuannya tentu bagaimana upaya penemuan, pengobatan, pencegahan dan pendampingan TBC semakin efektif,” pungkasnya.

Kunjungan tersebut juga menjadi bagian dari upaya DPRD Banyuwangi memperkuat fungsi pengawasan dan pembahasan kebijakan kesehatan daerah melalui pembelajaran terhadap praktik penanggulangan TBC di daerah lain.

Related posts

Tinggalkan Balasan

Required fields are marked *